Mau tau alasannya? Nih gw dapet dari http://www.mediaindonesia.com
KUALALUMPUR--MI: Chief Executive Officer Kru Studio Norman Abdul Halim yang memproduksi film dokumenter Enigmatic Malaysia yang disiarkan Discovery Channel membantah mengklaim tari pendet sebagai milik negaranya. Justru dari beberapa karyanya menunjukkan akar beberapa budaya Malaysia justru dari Indonesia.
Ditemui di Kuala Lumpur, Kamis (27/9), Norman menjelaskan tidak pernah membuat dokumenter mengenai tari pendet. Ia bersama production house-nya memang merupakan rekanan Discovery Channel yang berkedudukan di Singapura. "Kita memproduksi program Enigmatic Malaysia sebanyak enam episode, dua di antaranya bercerita tentang keris dan batik yang berkembang di Malaysia," jelasnya.
Dokumenter itu itu dibuatnya berdasarkan penelitian selama tiga tahun. Ia menggambarkan keris dan batik yang di Malaysia, asalnya dari Pulau Jawa, Indonesia. Untuk mendukung pemaparan dalam film tersebut, ada gambar orang berpakaian batik melakukan tari jawa. "Jadi bukan Tari Pendet, gambarnya pun semua dilakukan di Malaysia," paparnya.
Discovery Channel sesuai pernyataannya yang dikutip Norman, lalu membuat iklan untuk mempromokan program Enigmatic Malaysia tersebut. Dalam iklan itu, mereka menayangkan tari pendet yang diambil dari pihak ketiga. "Discovery telah mengakuinya sebagai kesalahan, dan
telah menghentikan penayangan iklan, serta menggantinya dengan yang lain," tukasnya.
Mengenai adanya tuntutan agar setiap produksi tentang budaya Indonesia harus ada izin, Norman menyanggupinya. Ia berjanji akan meminta izin kepada pemerintah Indonesia jika ada lagi order mengenai Indonesia. "Tolong saya diberitahu, bagaimana prosedurnya untuk minta izin," kata pimpinan salah production house terbesar di Malaysia tersebut. Ia meminta maaf film dokumenternya menimbulkan kisruh dan kesalahpahaman tentang tari pendet.
Anggota DPD RI Parlindungan Purba (Sumut), Aida Ismeth (Kepulauan Riau) dan Eni Khairani (Bengkulu) di sela kunjungannya di Malaysia bertemu Norman untuk mengklarifikasi mengenai kontroversi tari pendet. Ia menegaskan kepada para senator tersebut tidak benar Malaysia
mengklaim tari pendet sebagai miliknya.
"Kita menghargai penjelasan Norman, dengan ini kita minta masyarakat jangan cepat terpancing dengan isu seakan-akan Malaysia mengklaim tari pendet sebagai miliknya. Malah, dari film dokumenternya mengenai keris dan batik, jelas ada pengakuan asalnya dari Indonesia," kata
Parlindungan Purba. Ia juga meminta kedutaan besar Malaysia di Indonesia proaktif menyikapi isu yang bisa mengganggu hubungan kedua negara. (BS/OL-03)
Gimana jelas kan...
MALAYSIA = TRULY THIEF IN ASIA
KUALALUMPUR--MI: Chief Executive Officer Kru Studio Norman Abdul Halim yang memproduksi film dokumenter Enigmatic Malaysia yang disiarkan Discovery Channel membantah mengklaim tari pendet sebagai milik negaranya. Justru dari beberapa karyanya menunjukkan akar beberapa budaya Malaysia justru dari Indonesia.
Ditemui di Kuala Lumpur, Kamis (27/9), Norman menjelaskan tidak pernah membuat dokumenter mengenai tari pendet. Ia bersama production house-nya memang merupakan rekanan Discovery Channel yang berkedudukan di Singapura. "Kita memproduksi program Enigmatic Malaysia sebanyak enam episode, dua di antaranya bercerita tentang keris dan batik yang berkembang di Malaysia," jelasnya.
Dokumenter itu itu dibuatnya berdasarkan penelitian selama tiga tahun. Ia menggambarkan keris dan batik yang di Malaysia, asalnya dari Pulau Jawa, Indonesia. Untuk mendukung pemaparan dalam film tersebut, ada gambar orang berpakaian batik melakukan tari jawa. "Jadi bukan Tari Pendet, gambarnya pun semua dilakukan di Malaysia," paparnya.
Discovery Channel sesuai pernyataannya yang dikutip Norman, lalu membuat iklan untuk mempromokan program Enigmatic Malaysia tersebut. Dalam iklan itu, mereka menayangkan tari pendet yang diambil dari pihak ketiga. "Discovery telah mengakuinya sebagai kesalahan, dan
telah menghentikan penayangan iklan, serta menggantinya dengan yang lain," tukasnya.
Mengenai adanya tuntutan agar setiap produksi tentang budaya Indonesia harus ada izin, Norman menyanggupinya. Ia berjanji akan meminta izin kepada pemerintah Indonesia jika ada lagi order mengenai Indonesia. "Tolong saya diberitahu, bagaimana prosedurnya untuk minta izin," kata pimpinan salah production house terbesar di Malaysia tersebut. Ia meminta maaf film dokumenternya menimbulkan kisruh dan kesalahpahaman tentang tari pendet.
Anggota DPD RI Parlindungan Purba (Sumut), Aida Ismeth (Kepulauan Riau) dan Eni Khairani (Bengkulu) di sela kunjungannya di Malaysia bertemu Norman untuk mengklarifikasi mengenai kontroversi tari pendet. Ia menegaskan kepada para senator tersebut tidak benar Malaysia
mengklaim tari pendet sebagai miliknya.
"Kita menghargai penjelasan Norman, dengan ini kita minta masyarakat jangan cepat terpancing dengan isu seakan-akan Malaysia mengklaim tari pendet sebagai miliknya. Malah, dari film dokumenternya mengenai keris dan batik, jelas ada pengakuan asalnya dari Indonesia," kata
Parlindungan Purba. Ia juga meminta kedutaan besar Malaysia di Indonesia proaktif menyikapi isu yang bisa mengganggu hubungan kedua negara. (BS/OL-03)
Gimana jelas kan...
MALAYSIA = TRULY THIEF IN ASIA


0 comments:
Post a Comment